Memilih Pemimpin Kampus Negeri: Bukan Sekadar Menebak Pemenang
Penulis: Prof. Dr. Nairobi (Anggota Senat Universitas Lampung)
Lampung, Indonesia Jurnalis -Dalam pemilihan pemimpin kampus, sering muncul pandangan “lebih baik memilih calon yang diperkirakan menang daripada mendukung calon berkualitas yang akhirnya kalah”. Dukungan pihak berpengaruh dianggap sebagai petunjuk kemenangan, sedangkan mengikuti dukungan tersebut disebut realistis.
Pandangan ini tidak harus langsung dicap oportunistis. Ia mungkin lahir dari keinginan menjaga stabilitas atau memperoleh dukungan. Namun, teori permainan menilai pilihan berdasarkan tujuan, aturan, tindakan pemain lain, dan keuntungan yang diperhitungkan. Peluang kemenangan saja belum cukup menjelaskan manfaat pilihan bagi universitas.
Pemilih Ikut Membentuk Hasil
Penonton pertandingan memperkirakan pemenang tanpa menentukan skor. Pemilih berbeda, tindakannya ikut membentuk hasil. Karena itu, perkiraan bahwa seorang calon akan kalah tidak selalu berada di luar kendali pemilih.
Bayangkan calon A dinilai lebih berkualitas, sementara calon B dianggap memiliki dukungan eksternal lebih kuat. Sejumlah anggota sebenarnya menyukai A, tetapi memperkirakan anggota lain memilih B. Mereka kemudian mengikuti B agar tidak berada di pihak yang kalah.
Jika banyak orang berpikir demikian, B menang. Kemenangan itu digunakan untuk membenarkan keyakinan bahwa B tidak mungkin dikalahkan. Padahal, hasil tersebut juga dibentuk oleh keputusan pendukung potensial A untuk meninggalkan pilihannya.
Dengan demikian, keyakinan tentang kemenangan dapat menjadi penyebab kemenangan. Pertanyaannya, apakah A benar-benar tidak mungkin menang, atau peluangnya melemah karena pemilih terlalu cepat menyerah?
Rasional untuk Siapa?
Dalam teori permainan, keuntungan dinilai berdasarkan preferensi pemain. Karena itu, pilihan yang rasional bagi individu belum tentu terbaik bagi institusi.
Jika tujuan pemilih adalah kepemimpinan terbaik, ukurannya mencakup integritas, mutu pendidikan, penelitian, dan keberlanjutan kampus. Jika tujuannya menjaga kedekatan dengan calon penguasa, ukuran keuntungannya berbeda.




