Menuju 100 Tahun KOWANI, Perempuan Indonesia Didorong Jadi Penggerak Peradaban
JAKARTA, Indonesia jurnalis – Peringatan Hari Kartini 2026 menjadi momentum penting bagi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dalam memperkuat peran perempuan menuju peradaban yang lebih maju. Mengusung tema “Revolusioner Peradaban Perempuan Indonesia” kegiatan ini juga menjadi bagian dari perjalanan menuju 100 tahun KOWANI (1928–2028).
Acara yang berlangsung di Sekretariat KOWANI, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026), dihadiri oleh jajaran pengurus, organisasi perempuan, serta berbagai pemangku kepentingan.
Ketua Umum KOWANI, Nanik Hadi Tjahjanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan Hari Kartini tahun ini digelar secara maraton sejak 19 April 2026.
“Alhamdulillah, terima kasih atas kehadiran semua pihak yang telah mendukung rangkaian kegiatan Hari Kartini. Kegiatan ini dimulai dari tanggal 19 April yang diikuti organisasi perempuan dan generasi muda, dilanjutkan dengan rapat kerja pada 20 April yang menghasilkan program kerja satu tahun ke depan,” ujarnya.
Dalam rapat kerja tersebut, lanjutnya, terdapat dua poin penting yang disepakati, yakni program kerja tahunan serta usulan pelaksanaan musyawarah kerja untuk menyempurnakan struktur kepemimpinan organisasi.
Perwakilan bidang organisasi menambahkan bahwa hasil musyawarah kerja telah menetapkan kepengurusan dewan pimpinan secara definitif.
“Melalui musyawarah kerja, kepengurusan yang sebelumnya bersifat pelaksana tugas (Plt) kini telah disahkan menjadi definitif sesuai dengan AD/ART organisasi, dan akan menjalankan tugas hingga akhir masa jabatan,” jelasnya.
Selain konsolidasi internal, KOWANI juga mendorong langkah strategis melalui program “KOWANI Goes to UNESCO Memory of the World” dengan mengusulkan arsip Kongres Perempuan Indonesia sebagai warisan dunia.
Perwakilan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyatakan dukungan terhadap upaya tersebut, dengan catatan bahwa proses harus melalui tahapan nasional terlebih dahulu.
“Kami siap mendukung pengajuan arsip Kongres Perempuan sebagai Memory of the World. Namun, prosesnya dimulai dari tingkat nasional, yaitu melalui Memory Kolektif Bangsa (MKB), sebelum diajukan ke UNESCO,” ungkap perwakilan ANRI.




