Anakletus mengaku terharu melihat antusiasme umat yang hadir, mengingat selama ini masyarakat Maluku dikenal tersebar di berbagai daerah dan sulit untuk dihimpun dalam satu kegiatan besar.
“Saya merasa terharu, karena orang-orang Maluku itu ada di mana-mana. Tapi untuk merangkul semuanya seperti ini sangat sulit. Karena itu, kami memulai dari dalam, dari komunitas kecil kami sebagai umat Katolik. Harapannya, nanti kami bisa berdampak bagi saudara-saudara kami di luar,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan Natal bersama ini direncanakan akan dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun, namun tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi umat.
“Ini bukan program wajib yang harus selalu dilaksanakan, tetapi akan disesuaikan dengan kebutuhan. Selain itu, kami juga sudah merencanakan kegiatan lain, termasuk membangun kerja sama dengan kementerian-kementerian,” jelas Anakletus.
Salah satu bentuk kerja sama yang direncanakan adalah dengan Kementerian Hak Asasi Manusia, terutama terkait isu-isu pelanggaran HAM di Maluku.
“Kemarin kami sudah bertemu dengan pihak kementerian. Isu-isu seperti pelanggaran HAM, termasuk persoalan tambang emas di Provinsi Maluku, menjadi perhatian serius dan dinilai relevan bagi kami,” pungkasnya.**
(Ls)




