Perang AS-Israel vs Iran: Dampaknya terhadap Harga Plastik

IMG 20260405 WA0000

Perang AS-Israel vs Iran: Dampaknya terhadap Harga Plastik

Penulis: Prof. Dr. Nairobi (Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan FEB Unila)

Lampung, Indonesia Jurnalis – Lonjakan harga plastik yang kini dikeluhkan pedagang dan pelaku UMKM sesungguhnya adalah gambaran telanjang dari rapuhnya struktur pasokan bahan baku Indonesia. Kenaikan Rp2.000 – Rp6.000 per pak plastik bukan sekadar soal kantong kresek lebih mahal, melainkan gejala imported cost-push inflation. Inflasi yang diimpor dari gejolak pasar energi dan petrokimia global, lalu mentransmisi ke biaya hidup rumah tangga dan struktur biaya pelaku usaha kecil.

Dari Gejolak Global ke Kantong Plastik Pasar

Di hulu, konflik di kawasan Timur Tengah mengganggu jalur pasokan minyak dan nafta, bahan baku utama industri petrokimia global. Ketika harga nafta melompat, biaya produksi resin plastik seperti PP dan PE ikut terdorong naik, membuat produsen petrokimia merespons dengan menaikkan harga sambil sebagian memilih strategi produksi “on–off” dan menahan penjualan pada saat harga sangat bergejolak. Akibatnya, bagi industri hilir di Indonesia, persoalannya bukan hanya harga bahan baku yang lebih mahal, tetapi juga ketersediaan yang makin ketat sehingga ruang bagi pelaku domestik untuk menyerap shock menjadi sangat sempit.
Lapisan berikutnya terjadi pada industri pengolahan dan distributor biji plastik yang sangat bergantung pada impor resin, di tengah kapasitas petrokimia domestik yang terbatas. Ketika harga global naik, hampir seluruh kenaikan itu diteruskan ke harga domestik karena tidak ada penyangga pasokan yang kuat di dalam negeri, sementara struktur pasar yang cenderung terkonsentrasi memperbesar kemungkinan penentuan harga yang tidak sepenuhnya kompetitif. Bagi pabrik kemasan dan distributor plastik, dorongan biaya dari hulu menjadi alasan rasional menaikkan harga, apalagi ketika permintaan menjelang Ramadan dan Lebaran menguat dan kelangkaan stok memperkuat posisi tawar mereka di pasar.

Baca Juga  Tren Korset dalam Mode Kontemporer

Transmisi ke UMKM dan Inflasi Rumah Tangga

Di hilir, transmisi kenaikan harga itu sangat cepat dan kasat mata. Pedagang pasar dan pelaku UMKM makanan menghadapi harga plastik kemasan yang melonjak, sehingga biaya kantong, bungkus, dan wadah makanan naik signifikan sementara daya beli konsumen tidak serta-merta meningkat. Mereka lalu dihadapkan pada tiga pilihan pahit. Menaikkan harga jual, mengurangi porsi atau kualitas, atau menerima margin keuntungan yang lebih tipis, dan apa pun pilihannya tekanan pada kesejahteraan rumah tangga berpendapatan rendah hampir tak terelakkan.
UMKM di sini bukan sekadar pelaku usaha kecil, melainkan tulang punggung perekonomian yang menyumbang mayoritas penyerapan tenaga kerja dan porsi besar PDB nasional, sehingga guncangan biaya di sektor ini identik dengan guncangan kesejahteraan publik. Kenaikan harga plastik sebagai input kemasan pangan berpotensi mendorong kenaikan harga produk makanan dan minuman yang banyak dikonsumsi kelompok berpendapatan rendah, sehingga cost-push inflation di sektor plastik cepat berubah menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dan regresif secara distribusi.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *