Satu tahun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Mengelola APBN

Satu tahun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Mengelola APBN
Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat rapat di DPR, (photo istimewa)
Satu tahun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Mengelola APBN

JAKARTA, Indonesia jurnalis – Genap satu tahun Purbaya Yudhi Sadewa menjalankan tugas sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 8 September 2025. Selama masa kepemimpinannya, Purbaya membawa pendekatan yang berbeda dalam mengelola kebijakan fiskal, dengan menempatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai salah satu instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian pada awal masa jabatannya adalah keputusan pemerintah menempatkan dana negara sebesar Rp200 triliun pada lima bank umum mitra pada September 2025.

Dana tersebut ditempatkan di Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Kebijakan itu diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan sekaligus mendorong peningkatan aktivitas ekonomi.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah awal yang menandai pendekatan Purbaya dalam mengelola fiskal. APBN tidak hanya diarahkan untuk menjaga stabilitas keuangan negara, tetapi juga dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.

APBN Tetap Ekspansif, Penerimaan Negara Menguat

Memasuki 2026, pemerintah terus mendorong agar kebijakan APBN mampu memberikan dampak yang lebih nyata terhadap perekonomian nasional.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih menghadapi berbagai tantangan, terutama akibat ketidakpastian dan dinamika ekonomi global. Namun, pemerintah menilai perekonomian nasional telah menunjukkan perkembangan positif dan mulai bergerak keluar dari pola pertumbuhan di kisaran 5 persen.

Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,39 persen pada kuartal IV 2025. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026, sebelum berada di level 5,29 persen pada kuartal II 2026.

Purbaya menilai perlambatan pada kuartal II 2026 masih dipengaruhi oleh kondisi global. Meski demikian, ia optimistis perekonomian Indonesia memiliki peluang untuk kembali bergerak menuju pertumbuhan 6 persen.

Baca Juga  Letjen TNI I Nyoman Cantiasa Apresiasi Peran PHDI Sebagai Jembatan Kerukunan Umat Beragama di Sulawesi Tengah

“Saya pastikan sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5%. Triwulan ke-IV tahun lalu kan 5,39%, triwulan pertama (2026) 5,61%, triwulan ke-II (2026) 5,29%. Agak turun sedikit, tapi karena gangguan global ya, tapi sekarang siap untuk gerakkan 6% lagi. Mungkin triwulan IV tahun ini bisa mendekati 6%,” tambah Menkeu.

Redaksi
Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *