● Agustus 1962, setelah Belanda menandatangani perjanjian New York untuk menyerahkan Papua Barat kepada pemerintah Indonesia ribuan orang Papua mengajukan permohonan tinggal kepada pemerintah Australia untuk di PNG.
● Akhir Agustus 1962, 350 orang Papua Barat mengungsi ke Weam, PNG
● Juni 1963, Ratusan orang Papua Barat mengungsi ke tempat-tempat pemukiman warga PNG di sepanjang perbatasan PNG RI: Jayapura Vanimo (bagian Utara) di Skotiau
● Oktober 1968, 40 orang pengungsi politik dari Papua Barat dipindahkan dari Vanimo dan Wewak ke pulau Manus.
● 1969
Pengungsi dan pencari swaka Papua sangat besar jumlahnya dalam tahun 1969, sebelum dan menjelang Pepera 1969, walaupun Pemerintah Indonesia menawarkan amnesty. Barangkali karena amnesty ini diikuti oleh kegiatan Kampanye Operasi Sadar (Operation Awareness Propaganda)
● Januari, 51 orang yang mengungsi dan mencari swaka
● Februari, 77 orang
● Maret, 25 orang
● April, 196 orang
● Pertengahan April, 111 orang
● Mei, 402 orang
● Juni, 188 orang
● Dalam bulan Juni jumlah pengungsi di tiga tempat di PNG dicatat sebagai berikut: (a) Yako: 112 orang; (b) Morehead: 280 orang; (c) Manus: 50 orang
● Juli, 140 orang
● Agustus, 616 orang
● Desember, 326 orang
● 1977 – 1982
Mei 1977, 490 orang Papua menyeberang ke perbatasan RI dan PNG sebagai pengungsi. 290 orang di Kwari Barat Daya Daru) 200 orang di Wawol di Western Province. Kemudian dalam bulan yang sama 60 orang menyeberang ke Bewani, PNG
Agustus 1978, 50 orang Papua menyeberang ke Yako, PNG; 30 orang dari mereka mencari swaka dari PNG, dll
Juni 1979, 145 pengungsi Papua Barat di PNG dipindahkan oleh Pemerintah PNG dari Kam Pengungsi di Yako, Oksapmin, Madang dan Weam
Desember 1980, 120 warga masyarakat mengungsi ke Morehead, Western Province, PNG
1982, 29 orang pengungsi Papua Barat dipindahkan oleh Departemen Luar Negeri PNG dari Yako ke Wutung dan Bewani, PNG.
Orang asli Papua: warga keturunan leluhur yang telah tinggal di tanah ini jauh sebelum Tidore dan Ternate lahir, yang sejak Mei 1962 menjalani sejarah kehilangan dan pengungsian di atas.
10. keturunan leluhur Papua yang sejak 1880an hingga dewasa ini dicatat terus memperjuangkan impian jaman bahagia melalui gerakan-gerakan mesianis/keagamaan: seperti: koreri (makan di satu piring), hai (jaman bahagia), ayii (jaman kseteraan dan semuanya berkecukupan), dll[14].
11. Warga yang Papua yang menjadi target dan korban dari kebijakan Pengkondisian yang dimuat dalam Dokumen sangat Rahasia yang dikeluarkan pada tanggal 9 Juni 2000 oleh Dirjen Kesbang dengan nomor 578/ND/KESBANG/D IV/VI/2000. Dokumen tsb memberi perintah agar dilakukan operasi dengan melibatkan semua institusi Negara maupun swasta (baik langsung maupun tidak langsung untuk mengendalikan Papua yang separatis dan yang berpotensi menjadi separatis); dengan sifat operasi :terbuka maupun tertutup) di seluruh Provinsi dan Kabupten/kota. Siapa saja yang menjadi korban dan sasaran operasi: merekalah “orang asli Papua”.
12. keturunan leluhur Papua yang sejak awal tahun 1980an dipaksa/diteror dan ditembak TNI POLRI karena bermasa bodoh, enggan atau terlambat mengikuti upacara hari kemerdekaan 17 Agustus, seperti yang telihat dalam kasus dan pengalaman berikut.
Dua warga suku Mee warga yang ditembak Koramil Obano (Paniai Barat) lantaran terlambat mengikuti upacara perayaan hari kemerdekaan 17 tahun 1983. Satu diantara korban tewas ditempat; sementara yang lainnya luka berat di kaki kanan karena tiba di tempat upacara 30 menit setelah upacara dimulai.
Warga pos 7 Sentani yang rumahnya menjadi operasi target penggeledahan pada tanggal 16 Agustus 2006. Saat operasi pagi hari (sekitar jam 5 sampai 6 pagi) berlangsung warga yang tidak mengibarkan bendera merah putih di halaman rumahnya dihajar dan diinterogasi dan disuruh pergi membeli bendera merah putih di Pasa Baru Sentani. Penghuni rumah-rumah yang kedapatan menyimpan bendera/gambar bendera bintang kejora didaftar namanya setelah dipukul babak belur gerombolan TNI POLRI.
Demikian juga warga Kelapa Lima, Merauke; sekitar jam 5 pagi yg diangunkan gerombolan TNI POLRI yang melakukan operasi memantau kampong-kampung mana yg tidak menaikkan bendera merah putih.
Staf Lurah Hedam yang diteror dua orang Indonesia (anggota Kopassus) karena tidak menaikkan bendera merah putih pada tanggal 16 Agustus 2007.
Ini kriteria lain siapa orang asli. Mereka yang dipaksa merayakan penjajah yang merebut harga diri dan masa depannya.
Orang asli Papua ialah yang menurut laporan Yale University (November 2003) dan Sydney University (Agustus 2007) sedang menuju kepunahan.
Kategori yang terakhir ialah perempuan dan laki-laki orang Indonesia yang menikah dengan orang asli Papua” di atas (kategori a sampai l) yang sering dimarahi orang Indonesia lain, “mengapa menikah dengan orang Papua yang bodoh, pemabuk dan primitif? Apakah tidak ada laki-laki (atau perempuan) lain di Jawa, Sulawesi, Maluku, dll, kah?
Kriteria “orang asli Papua” di atas harus dilihat/dibaca secara utuh, tidak dibagi-bagi dan dilihat secara sepotong-potong. Siapa “orang asli Papua”? Siapa “orang asli Papua”? Siapa saja yang memenuhi criteria di atas, mari silahkan bergabung. Tetapi orang Papua tidak hanya itu.
[1] Souter Gavin (1978). New Guinea. The Last Unknown. Sydney: Angus and Robertson, hal.17
[2] Martin O’Hare (1986). Majapahit’s Influence Over Wwanin in New Guinea, MA Thesis: Hal. 37
[3] N. Miklouho Maclay (1982), Travels to New Guinea. Moscow: Progress Publishers, hal. 19 – 21.
[4] F.C. Kamma (1953) “Land en volk der Papoea’s”, dalam F.C. Kamma. Kruis en Korwar. Den Haag: Voorhove.
[5] [5] Eliezer Bonay, Nasionalisme Papua Barat, Catatan 2 halaman, tidak diterbitkan, tt; (Lihat juga, John Jansen Van Galen, (1984), Ons Laastse Oorlogje: Nieuw Guinea: De Pax Neerlandica, de Diplomatieke Kruistocht en de Vervlogen Droom van Een Papua Natie. Weesp: H&W Dossier. hal. 24
[6] Rk, Jayapura, 12 Mei 2010
[7] Diambil dari berbagai sumber: MABES ABRI Pusat Sejarah dan tradisi ABRI (1995) Jakarta, TRIKORA PEMBEBASAN IRIAN BARAT; PRAJA Ghupta Vira (Ksatrya Pelindung Rakyat), Dinas Sejarah Militer, KODAM XVII Tjenderawasih, 1971.
[8] Jarahdam XVII/Cenderawasih (1983), Praja Ghupta Vira Membangun Bakti TNI AD di Irian Jaya Pada Periode Tahun 1970 – 1982. Jayapura (hal. 238)
[9] Jarahdam XVII/Cenderawasih (1983), Praja Ghupta Vira Membangun Bakti TNI AD di Irian Jaya Pada Periode Tahun 1970 – 1982. Jayapura (hal. 238)
[10] Carmel Budiardjo Liem Soei Liong (1984), West Papua: An Obliteration of a People, London: Tapol: hal.80
[11] Carmel Budiardjo & Liem Soei Liong (1984), West Papua: An Obliteration of a People,hal.86
[12] Amapon Jos Marey, Menangis di Atas Pesawat, dalam Leontine Visser, Amapon Jos Visser (2008) Bakti Pamongpradja Papua. Jakarta: Kompas, hal.361
[13] Wawancara dengan Adolfine Zonggonao, Sydney/Canberra, 4 Desember 2001
[14] Lihat, Peter Worsley (1968) The Trumpet Shall Sound. Schocken Books: New York;)
(Ketua Sinode Gereja Injil (Kingmi) Di Tanah Papua)




