APKASINDO Gelar Pertemuan Nasional Petani Sawit III, Hilirisasi dan Perlindungan Pekebun Jadi Sorotan
JAKARTA, Indonesia jurnalis – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) resmi menggelar Pertemuan Nasional Petani Sawit Indonesia ke-III di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-26 APKASINDO ini mengangkat agenda penguatan petani, peningkatan sinergi sektor hulu dan hilir, serta upaya mendorong kesejahteraan pekebun sawit di Indonesia.
Pertemuan strategis tersebut dihadiri perwakilan pemerintah dan ribuan pekebun dari berbagai daerah. Forum ini menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi petani sekaligus memperkuat koordinasi dalam menghadapi berbagai tantangan industri kelapa sawit nasional.
APKASINDO Serahkan Resolusi Petani Sawit 2026–2027
Salah satu agenda utama pada hari pertama adalah penyerahan Resolusi Petani Sawit Indonesia 2026–2027 kepada Dr. Ir. H. Moeldoko, S.P., M.P., yang mewakili Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Penyerahan resolusi tersebut menjadi simbol komitmen untuk memperkuat pembangunan industri kelapa sawit secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu yang melibatkan petani dan pekebun hingga sektor hilir yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah produk.
Dalam rangkaian kegiatan yang sama, APKASINDO juga melaksanakan penyaluran simbolis program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) kepada KUD Marga Bakti.
Dukungan berupa sarana dan prasarana turut diserahkan kepada Nasmasriyati. Selain itu, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) diberikan kepada sejumlah koperasi binaan, di antaranya KUD Sumber Rejeki, KUD Tani Lestari, dan KPUD Rukun Karya.
Berbagai dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas pekebun, meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat, serta mendorong penerapan praktik perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Hilirisasi Dinilai Lebih Strategis daripada Perluasan Lahan
Menteri PPN/Kepala Bappenas Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. H. Rachmat Pambudi, M.S., dalam arahannya menekankan bahwa perluasan lahan bukan lagi menjadi satu-satunya pilihan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit.
Menurutnya, pengembangan industri melalui hilirisasi perlu menjadi perhatian utama agar komoditas kelapa sawit menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi pekebun.




