Diskusi Film “Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang”

Diskusi Film “Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang” Angkat Peran Perempuan dalam Sejarah dan Tantangan Masa Kini
Diskusi Film “Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang” Angkat Peran Perempuan dalam Sejarah dan Tantangan Masa Kini, Selasa, 28 April 2026, pukul 14.30–17.30 WIB di Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower lantai 5
Diskusi Film “Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang” Angkat Peran Perempuan dalam Sejarah dan Tantangan Masa Kini

JAKARTA, Indonesia jurnalis — Diskusi film dokumenter Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang digelar pada Selasa, 28 April 2026, pukul 14.30–17.30 WIB di Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower lantai 5. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, penulis, hingga praktisi media, untuk mengupas peran dan pemikiran tokoh perempuan pelopor jurnalistik Indonesia tersebut.

Hadir sebagai pembicara antara lain Prof. Yenny Narny, MA, PhD (Guru Besar Sejarah FIB Universitas Andalas), Hasril Chaniago (penulis buku Riwayat Hidup dan Perjuangan Ruhana Kuddus: Tokoh Perempuan yang Mendahului Zaman), serta Evi Mariani (Pemimpin Umum Project Multatuli). Diskusi dipandu oleh Lisda Hendrajoni, Anggota DPR RI Fraksi NasDem, dengan pengantar oleh Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat.

Dalam pengantarnya, Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pemutaran film dokumenter ini merupakan bagian dari agenda rutin Perpustakaan Panglima Itam yang tidak hanya menayangkan film, tetapi juga membuka ruang diskusi publik. Ia menyebut kegiatan kali ini menjadi istimewa karena mengangkat sosok Roehana Koeddoes yang belum banyak dikenal luas.

“Kesempatan ini menjadi sangat istimewa karena Roehana Koeddoes belum banyak dikenal, kecuali di kalangan tertentu seperti wartawan. Padahal, beliau adalah pejuang perempuan dan jurnalis yang telah melampaui zamannya,” ujar Lestari.

Ia juga menjelaskan bahwa pemilihan tema film tidak terlepas dari momentum peringatan Hari Kartini. Menurutnya, peringatan tersebut tidak hanya berfokus pada sosok R.A. Kartini, tetapi juga pada nilai-nilai perjuangan perempuan di berbagai daerah.

“Yang kita peringati bukan semata-mata sosok Kartini, tetapi nilai perjuangan, semangat, dan gagasan yang menginspirasi perempuan di Nusantara,” katanya.

Baca Juga  Praktisi Film: UU Perfilman Sudah Cukup, Tantangan Utama Ada pada Implementasi

Lestari turut menyoroti relevansi pemikiran Roehana Koeddoes dengan kondisi perempuan masa kini. Ia mempertanyakan sejauh mana perempuan telah benar-benar merdeka, meskipun secara kasat mata terlihat lebih percaya diri.

“Perempuan saat ini terlihat lebih percaya diri, tetapi apakah sudah benar-benar merdeka? Masih ada stigma dan ‘tembok kaca’ yang menjadi tantangan,” ujarnya.

Menurutnya, Roehana Koeddoes telah menunjukkan bagaimana membangun kesadaran kolektif dan ruang belajar di tengah keterbatasan.

“Roehana tidak menunggu sistem berubah. Ia membangun kesadaran, membuka ruang belajar, dan menuliskan gagasan-gagasannya di tengah keterbatasan,” tambahnya.

Usai pemutaran film dan diskusi, Prof. Yenny Narny menyampaikan kepada media yang menyoroti minimnya representasi perempuan dalam penulisan sejarah. Ia menilai perempuan kerap ditempatkan di pinggiran dalam narasi sejarah.

Redaksi
Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *