Halal Bihalal dan Raker III Dewan Adat Bamus Betawi Soroti Penguatan Budaya hingga Sertifikasi Profesi

Halal Bihalal dan Raker III Dewan Adat Bamus Betawi Soroti Penguatan Budaya hingga Sertifikasi Profesi
Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi, Muhammad Rifky atau yang akrab disapa Eky Pitung

Ia berharap program sertifikasi budaya Betawi dapat segera direalisasikan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Siapa yang punya sertifikasi budaya Betawi itulah yang wajib kita lindungi dan wajib kita dukung oleh Dewan Adat,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Eky juga menyinggung pentingnya keberadaan masyarakat adat Betawi dalam konteks kekhususan DKI Jakarta sebagaimana diatur dalam Pasal 18B Undang-Undang Dasar 1945.

Ia membandingkan posisi Jakarta dengan daerah khusus lain seperti Aceh, Yogyakarta, dan Papua yang menurutnya telah mendapatkan pengakuan dan kewenangan khusus dari pemerintah pusat.

“Pertanyaannya, untuk DKI Jakarta sebagai daerah khusus Betawi, kita belum mendapatkan hal tersebut. Walikota saja belum dipilih langsung. Betawi belum mendapatkan hak-haknya,” katanya.

Menurut Eky, hasil Raker III diharapkan dapat melahirkan gagasan dan rekomendasi konkret demi memperkuat posisi masyarakat Betawi sebagai masyarakat adat di Jakarta.

Acara berlangsung penuh keakraban dan ditutup dengan agenda rapat kerja internal organisasi yang membahas program jangka pendek maupun jangka panjang Dewan Adat Bamus Betawi.

Halal Bihalal dan Raker III Dewan Adat Bamus Betawi Soroti Penguatan Budaya hingga Sertifikasi Profesi
Halal Bihalal dan Raker III Dewan Adat Bamus Betawi Soroti Penguatan Budaya hingga Sertifikasi Profesi

Dalam sesi berikutnya, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyampaikan bahwa dunia kerja saat ini tengah mengalami guncangan besar akibat disrupsi digital, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan otomasi. Menurutnya, perubahan tersebut bukan lagi sekadar gambaran masa depan, melainkan sudah nyata terjadi di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan, berbagai pekerjaan manual dan rutin yang selama ini menjadi sandaran banyak warga perlahan mulai hilang dan digantikan oleh sistem teknologi modern. Namun demikian, di balik hilangnya pekerjaan lama, muncul pula berbagai jenis pekerjaan baru yang menuntut kemampuan digital dan literasi teknologi.

“Solusinya adalah kita tidak boleh melawan teknologi, tetapi harus mampu menungganginya. Masyarakat Betawi harus beradaptasi secara radikal. Kita harus menyiapkan generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna, melainkan pemain di dalam ekosistem digital baru ini sehingga tidak tertinggal oleh arus perubahan,” ujarnya.

Baca Juga  KSPM Kota Bogor Gelar Halal Bihalal dan Bakti Sosial di Pondok Pesantren Al-Ghifari

Lebih lanjut, ia mengingatkan adanya ancaman nyata terhadap keberlangsungan bisnis lokal di tengah persaingan industri global yang semakin berbasis digital. Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka akan muncul fenomena displacement atau tersingkirnya masyarakat lokal dari posisi strategis di daerahnya sendiri.

“Posisi-posisi strategis di Jakarta bisa saja diisi oleh talenta dari luar yang lebih siap dan lebih ideal dalam menghadapi perubahan zaman. Kita tentu tidak ingin masyarakat Betawi Hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri,” tegasnya.*

(Ls)

 

Redaksi
Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *