“Dalam kerangka analisa, elit bukan hanya aktor politik, tapi juga produsen wacana. Apa yang mereka ucapkan bisa menjadi aparatus ideologis yang membentuk kesadaran publik,” tegas Mesak.
Menurut SMIT, ruang digital saat ini telah menjadi medan produksi ideologi, di mana narasi yang tidak terkontrol dapat mempercepat polarisasi dan mempertajam konflik.
“Dalam kondisi masyarakat yang tertekan secara sosial-ekonomi, satu narasi bisa menjadi pemicu. Ini bukan soal kebetulan, ini soal bagaimana kesadaran publik dibentuk,” lanjutnya.
SMIT mengkritik keras posisi negara yang dinilai lebih sering hadir secara represif setelah konflik terjadi, namun absen dalam menjamin keadilan struktural.
“Negara hari ini lebih sibuk meredam akibat dari pada menyelesaikan sebab. Ini menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya berpihak pada rakyat,” ungkap Mesak.
Dalam perspektif SMIT, selama negara masih beroperasi dalam logika yang tidak menyentuh akar ketimpangan, maka konflik sosial akan terus menjadi siklus.
SMIT menegaskan bahwa konflik di Halmahera Tengah bukanlah peristiwa terakhir jika akar strukturalnya tidak diselesaikan.
“Selama kapitalisme ekstraktif terus berjalan tanpa kontrol sosial yang adil, selama rakyat terus dipinggirkan dari ruang hidupnya, dan selama kesadaran publik terus dialihkan oleh narasi semu, maka konflik akan terus direproduksi,” tegas Mesak.
SMIT mengingatkan bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar konflik horizontal, melainkan refleksi dari krisis yang lebih dalam: krisis keadilan, krisis distribusi, dan krisis arah pembangunan.
“Dan selama itu tidak diubah, maka setiap darah yang tumpah hari ini adalah bagian dari sistem yang sama,” tutupnya.*
(Gumelar)



