Aktivitas tambang galian C kini terlihat di sepanjang Jalan Lingkar Selatan hingga kawasan Gunung Taka. Truk-truk mengangkut tanah dan batu dari lokasi tambang.
Di tengah aktivitas tersebut, warga menilai perubahan lingkungan tidak diikuti perbaikan kesejahteraan mereka. Lahan yang dahulu menopang kehidupan petani perlahan kehilangan fungsinya.
“Tanah dan batu setiap hari diangkut dengan truk, tapi warga tetap menganggur. Tambang tidak banyak merekrut tenaga kerja,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan seorang pemuda berusia 21 tahun dari Lingkungan Cigobang. Ia menilai kualitas lingkungan tempat tinggalnya semakin memburuk. Suara mesin penggilingan batu dari kawasan quarry Gunung Taka terdengar bising, sementara lalu-lalang truk menimbulkan debu yang mengganggu aktivitas warga.
“Kami sebagai pemuda juga bingung mau protes ke mana. Kampung-kampung mendapat kompensasi, tapi warga tidak benar-benar merasakan kesejahteraan,” katanya.
Pemuda itu menduga usaha tambang tersebut dimiliki keluarga seorang anggota DPRD Kota Cilegon. Menurut dia, sebagian warga enggan menyampaikan keberatan karena khawatir berhadapan dengan pihak-pihak yang membekingi usaha tersebut.
Bagi warga, kompensasi yang diberikan belum menjawab persoalan mendasar. Uang pengganti tidak serta-merta menyediakan pekerjaan, memulihkan lahan pertanian, atau menjamin ketersediaan air. Ketika lahan yang biasa digarap semakin terbatas, pilihan penghidupan warga pun ikut menyempit.
“Kompensasi itu tidak seberapa. Tidak bisa memberi pekerjaan, tidak bisa membuat warga sejahtera. Hidup semakin sulit ketika orang-orang yang biasa bertani sudah tidak punya lahan,” ujarnya.




