Ketika MBG di Kelola Oleh Desa: Dari Dapur Desa Menuju Kemandirian
Wilkapri.SSos
Jakarta, Indonesia Jurnalis – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program sosial untuk pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi desa. Jika dikelola langsung oleh desa, program ini bisa menjadi pintu masuk menuju kemandirian desa yang sesungguhnya.
Salah satu poin menarik dalam skema MBG adalah adanya nilai pengelolaan sebesar Rp2.000 per porsi. Sekilas angka ini terlihat kecil, namun jika dikelola dengan sistem yang baik dan melibatkan masyarakat desa secara langsung, nilai tersebut dapat menjadi sumber perputaran ekonomi yang signifikan.
Bayangkan, jika dalam satu desa terdapat ribuan penerima manfaat setiap hari, maka akumulasi nilai pengelolaan tersebut akan menjadi pendapatan yang cukup besar. Sebagai contoh, jika desa mengelola 3.000 porsi per hari dengan nilai Rp2.000 per porsi, maka dalam satu hari desa memperoleh Rp6.000.000. Dalam satu bulan (30 hari), pendapatan mencapai Rp180.000.000, dan dalam satu tahun bisa menembus Rp2.160.000.000. Angka ini bukan lagi kecil, melainkan potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur desa, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan ekonomi lokal melalui BUMDes.
Lebih dari itu, pengelolaan MBG oleh desa membuka peluang luas bagi keterlibatan masyarakat. Mulai dari petani sebagai penyedia bahan pangan, ibu-ibu sebagai pengolah makanan, hingga pemuda sebagai tenaga distribusi. Rantai ekonomi ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang mampu menghidupkan ekonomi desa dari hulu ke hilir. Kemandirian desa tidak hanya diukur dari besarnya anggaran yang diterima, tetapi dari kemampuan desa mengelola potensi yang ada secara mandiri.




