Sementara itu, prosesi upacara di Kalibata dipimpin oleh Letkol Inf Ernies selaku Kepala Protokol Garnisun Tetap (Kogartap) I/Jakarta. Dengan komando yang terstruktur, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, tertib, dan penuh penghormatan.
Peringatan HJB ke-696 juga menjadi momentum refleksi atas perjalanan sejarah Bone, termasuk mengenang sosok Raja Bone ke-31, La Pawawoi Karaeng Sigeri. Ia dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda pada akhir abad ke-19.
Di tengah tekanan penjajahan, La Pawawoi memilih untuk melawan ketimbang tunduk. Keputusan tersebut membawa Kerajaan Bone dalam konflik terbuka dengan Belanda. Meski berujung pada kekalahan dan pengasingan, semangat juangnya tetap hidup dan menjadi simbol keberanian serta harga diri masyarakat Bone hingga kini.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Andi Akmal Pasluddin menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Bone tidak hanya dimaknai sebagai mengenang sejarah, tetapi juga sebagai upaya memperkuat identitas di tengah arus modernisasi.
“Ziarah ini adalah pengingat bahwa kita memiliki akar sejarah yang kuat. Nilai keberanian, kejujuran, dan pengabdian dari para raja dan pahlawan harus terus kita wariskan,” tegasnya.*
(Ls)




