– Ada perbedaan formula, biaya distribusi, dan skema penugasan yang membuat harga akhir terlihat tidak sejalan dengan ekspektasi pasar.
Meski demikian, dari sudut pandang konsumen, kondisi ini tetap membingungkan. Masyarakat sulit memahami mengapa BBM dengan oktan lebih rendah justru tampak lebih mahal dalam perhitungan keekonomian, sementara BBM dengan kualitas lebih tinggi dijual lebih murah.
Kejanggalan semacam ini menunjukkan bahwa transparansi dalam penetapan harga BBM masih menjadi persoalan penting. Pemerintah dan badan usaha penyalur BBM perlu menjelaskan lebih terbuka:
- Komponen apa saja yang membentuk harga BBM,
- Bagaimana subsidi dihitung,
- Dan mengapa harga jual di lapangan bisa berbeda jauh dari harga keekonomian.
Tanpa penjelasan yang transparan, publik akan terus mempertanyakan apakah harga BBM sudah benar-benar mencerminkan biaya produksi, distribusi, dan kebijakan energi nasional secara adil.
Fenomena Pertamax yang tampak lebih murah dibanding harga keekonomian Pertalite menjadi sinyal bahwa ada struktur harga BBM yang tidak sesederhana perbandingan oktan semata. Di sinilah letak masalahnya: masyarakat membutuhkan harga yang bukan hanya stabil, tetapi juga masuk akal, transparan, dan mudah dipahami.
Jika tidak dijelaskan dengan baik, perbedaan ini akan terus dianggap sebagai keanehan harga yang memicu kebingungan publik.*
(Source Redaksi)




