Tragedi Brigadir Arya: Bisnis Gelap Motor Bodong dan Onderdil Murah

IMG 20260510 WA0000 1

Fakta yang paling tidak nyaman justru datang dari masyarakat sendiri. Di pedesaan, motor bodong masih dianggap solusi praktis untuk pergi ke kebun, ke sawah, atau antar desa. Banyak orang menganggap motor tanpa surat bukan masalah besar selama kendaraan itu bisa dipakai bekerja. Cara pandang ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat merusak. Setiap pembelian motor bodong adalah pesan ekonomi kepada pencuri bahwa pasar tetap tersedia.

Hal yang sama berlaku pada onderdil murah. Banyak orang berburu sparepart bekas original dengan alasan penghematan. Mereka jarang bertanya dari mana barang itu berasal. Selama bentuknya bagus dan harganya rendah, transaksi terjadi. Dalam ruang seperti ini, onderdil hasil bongkaran motor curian mendapat jalan masuk yang lebar ke pasar biasa.

Masyarakat tidak bisa terus-menerus berdiri sebagai korban yang sepenuhnya tidak terlibat. Sebagian masyarakat, sadar atau tidak, telah menjadi penyokong permintaan bagi ekonomi curanmor. Mereka mungkin tidak mencuri, tetapi mereka ikut menjaga agar hasil curian tetap bernilai. Dalam logika pasar, permintaan itu sama pentingnya dengan pasokan.

Prinsipnya curanmor tidak sekadar tumbuh karena kemiskinan. Curanmor tumbuh karena kemiskinan bertemu dengan pasar gelap yang aktif, pengawasan yang lemah, dan kompromi moral yang pelan-pelan dinormalisasi. Kita membiarkan motor bodong dipakai di desa-desa seolah itu soal biasa. Kita membiarkan onderdil murah beredar tanpa banyak pertanyaan. Kita marah ketika motor kita hilang, tetapi di saat yang sama sebagian dari kita tetap tergoda membeli barang yang terlalu murah untuk disebut wajar.

Respons terhadap curanmor tidak bisa lagi berhenti pada operasi rutin dan konferensi pers penangkapan pelaku. Negara harus mengubah medan permainannya. Penadah harus diperlakukan sebagai aktor sentral, bukan tokoh figuran. Bengkel, lapak onderdil, akun jual beli, dan jaringan pemalsu surat harus menjadi sasaran utama, bukan sekadar pelengkap pengusutan.

Baca Juga  Eksesif Demokrasi Indonesia : Kebebasan Berdemokrasi Kedaulatan ditangan Rakyat

Langkah seperti itu penting karena inti persoalan curanmor adalah keuntungan. Selama keuntungan tetap besar dan risiko tetap bisa dinegosiasikan, pelaku akan terus berdatangan. Dalam bahasa game theory, strategi mencuri akan tetap dipilih jika hasil yang diharapkan lebih tinggi daripada ancamannya. Maka yang harus diubah adalah hitung-hitungan itu sendiri: risiko harus dinaikkan, pasar harus dipersempit, dan keuntungan harus dipotong sampai ke akar.

Pada saat yang sama, masyarakat juga harus berhenti bersembunyi di balik alasan ekonomi. Tidak semua yang murah layak dibeli. Tidak semua yang berguna boleh ditampung. Motor tanpa surat bukan solusi, tetapi bagian dari masalah. Sparepart yang terlalu murah dan tidak jelas asalnya bukan penghematan, tetapi kemungkinan besar jejak dari kejahatan yang sedang diputar ulang menjadi barang dagangan.

Gugurnya Brigadir Arya semestinya menjadi garis batas. Setelah nyawa aparat melayang, tidak ada lagi alasan untuk menyebut curanmor sebagai kejahatan pinggiran. Ini sudah menjadi ancaman nyata terhadap rasa aman publik dan wibawa negara. Jika negara tetap gagal memutus pasar motor bodong dan onderdil ilegal, maka kita sebenarnya sedang membiarkan ekonomi kejahatan tumbuh dengan darah sebagai ongkosnya.

Lampung tidak kekurangan aparat yang berani. Yang masih kurang adalah keberanian kolektif untuk mengakui bahwa curanmor bertahan karena ada yang membeli, ada yang menadah, dan ada yang membiarkan. Selama mata rantai itu tidak diputus, pencuri akan selalu menemukan alasan ekonomi untuk kembali beraksi. Dan selama itu pula, tragedi seperti yang merenggut Brigadir Arya akan tetap mengintai di tikungan berikutnya.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *