Tragedi Brigadir Arya: Bisnis Gelap Motor Bodong dan Onderdil Murah

IMG 20260510 WA0000 1
Tragedi Brigadir Arya: Bisnis Gelap Motor Bodong dan Onderdil Murah

 

Penulis : Prof. Dr. Nairobi (Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan FEB Unila)

 

Jakarta, Indonesia Jurnalis- Kota Bandar Lampung kehilangan satu nyawa polisi pemberani, karena berhadapan dengan kejahatan yang selama ini terlalu sering diremehkan. Brigadir Arya Supena gugur setelah ditembak pelaku curanmor ketika berusaha menggagalkan pencurian sepeda motor di Jalan ZA Pagar Alam. Tragedi itu seharusnya memaksa kita berhenti melihat curanmor sebagai kriminalitas kecil yang cukup dijawab dengan imbauan agar warga memakai kunci ganda.

Curanmor di Lampung sudah bukan sekadar soal pencuri yang nekat. Curanmor telah tumbuh menjadi bisnis gelap yang hidup karena ada pasar, ada pembeli, ada penadah, dan ada toleransi sosial yang diam-diam membesarkannya. Selama kejahatan ini tetap menghasilkan uang cepat, maka selalu ada orang yang bersedia mengambil risiko, bahkan dengan menembak mati aparat yang menghalangi jalan mereka.

Kita terlalu lama menjelaskan curanmor dengan bahasa moral. Pelakunya jahat, warga lengah, polisi harus lebih rajin patroli. Penjelasan itu tidak salah, tetapi terlalu dangkal. Soal utamanya bukan hanya moralitas, melainkan insentif ekonomi. Pelaku mencuri karena kejahatan ini masih terlihat menguntungkan.

Dalam hitungan ekonomi yang sederhana, motor adalah aset ideal bagi kejahatan. Motor mudah diambil, mudah dipindah, mudah disembunyikan, dan cepat diuangkan. Ketika motor hasil curian bisa langsung dijual beberapa jam setelah diambil, maka pencurian berubah dari tindakan nekat menjadi aktivitas ekonomi ilegal yang efisien.

Dari aspek ilmu ekonomi publik, game theory relevan untuk membaca masalah ini. Pelaku tidak mengambil keputusan dalam ruang kosong. Pelaku membaca perilaku pemain lain. Jika polisi dianggap tidak selalu hadir, penadah siap menampung, pembeli tetap mencari motor murah, dan pasar sparepart bekas terus menyerap barang, maka mencuri menjadi strategi yang terlihat paling menguntungkan.

Baca Juga  Catatan Kritis Harba ke-79 Tahun: PII Bukanlah Tempat Sirkus

Bahasa sederhananya, curanmor hidup bukan semata karena ada pencuri, tetapi karena ada ekosistem yang membuat pencurian tetap rasional dalam logika pelaku. Selama hasil curian mudah dijual, kejahatan akan terus berulang. Di titik ini, yang bekerja bukan hanya keberanian kriminal, tetapi mekanisme pasar.

Kegagalan terbesar kita ada pada satu hal, negara terlalu sering sibuk mengejar pencuri di ujung rantai, tetapi terlalu lemah memukul pasar di tengah dan di hilir. Padahal tanpa penadah, tanpa pemalsu surat, dan tanpa pembeli motor bodong, pencurian motor akan kehilangan daya tarik ekonominya. Pencuri bergerak karena ada yang membeli. Penadah menampung karena ada yang mencari. Pembeli datang karena ingin harga murah. Di situlah lingkaran setan itu berputar.

Team Redaksi
Author: Team Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *